
Asal-usul dan Habitat Alami
Benzoin Sumatera (Styrax benzoin) adalah pohon penghasil resin aromatik asli Asia Tenggara, termasuk Sumatra. Menurut catatan sejarah, benzoin adalah salah satu komoditas ekspor tertua Nusantara – telah diperdagangkan sejak abad ke-8. Di Indonesia, terutama di wilayah Sumatera Utara (Tapanuli), tanaman ini dibudidayakan selama berabad-abad. S. benzoin tumbuh alami di hutan hujan tropis Sumatra pada ketinggian sekitar 100–700 meter (hingga 1.600 m) dengan tanah lembab dan subur. Pohon ini kurang umum di hutan sekunder yang padat, dan lebih sering ditemukan di hutan primer campuran dengan tanah lempung kaya organik. Habitat aslinya mencakup Asia Tenggara (Myanmar, Thailand, Malaysia, Indonesia) dengan populasi langka di Jawa Barat.
Karakteristik Fisik dan Botani
Pohon benzoin Sumatera adalah tumbuhan berdaun hijau kekal (evergreen) yang dapat mencapai tinggi 8–34 meter dengan diameter batang 10–100 cm. Batang cenderung sedikit berumah (buttressed) pada pangkalnya. Daun tunggal, berseling, berbentuk lonjong (8–13 cm × 2–5 cm) dengan permukaan bawah berbulu putih (trikom stellat). Bunganya tersusun dalam malai (panikel) hingga sekitar 20 cm, berwarna putih harum. Buahnya berupa kapsul bulat (2–3 cm) tidak membuka, berisi satu biji bulat panjang ~1.5–2 cm. Resin benzoin, yang disebut kemenyan, berupa exsudat getah sakit (pathological exudate) pada luka kulit batang. Bentuknya adalah kepingan keras berwarna putih atau kuning kecokelatan dengan aroma manis yang khas. Kandungan kimia utamanya adalah asam aromatik seperti asam benzoat dan asam sinamat (cinnamic acid) beserta ester-ester turunannya. Kehadiran vanilin dalam resin memberikan aroma vanilla lembut, terutama pada benzoin Siam, sedangkan benzoin Sumatra kaya akan cinnamate yang memberi aroma hangat ala kayu manis. Secara mikroskopis, S. benzoin dapat dibedakan dari spesies mirip (misalnya S. paralleloneurus) melalui struktur rambut daun, tetapi keduanya menghasilkan resin benzoin Sumatra berkualitas tinggi.
Proses Panen dan Pengolahan Resin Benzoin
Resin benzoin dikumpulkan dengan cara menoreh kulit batang pohon styrax. Perajin membuat luka memanjang (biasanya berbentuk trapezoid atau V) di kulit batang sekitar 30–100 cm dari tanah hingga area cabang pertama. Getah putih kekuningan lalu mengalir keluar (bersama air dan getah lain) dari luka tersebut. Setelah beberapa minggu, eksudat ini mengering menjadi kepingan keras. Proses ini dapat diulang berulang kali pada satu pohon; aliran resin pertama (“takasan”) biasanya paling bersih berwarna kekuningan-putih, sedangkan aliran berikutnya (lecet, dll.) lebih gelap. Setelah dikumpulkan, resin segar dikeringkan selama beberapa bulan untuk menguapkan kelembapan dan membersihkan kotoran sebelum dijual. Di Sumatra, sebagian benzoin diproses lebih lanjut (misal destilasi uap) menjadi minyak benzoin beraroma tinggi, tetapi mayoritas diekspor sebagai resin kering mentah.
Kegunaan dalam Industri Parfum, Farmasi, Makanan, dan Pengobatan Tradisional
Resin benzoin Sumatra memiliki aroma manis harum dan sifat penyembuhan, sehingga banyak digunakan di berbagai industri. Dalam industri parfum dan wewangian, benzoin bertindak sebagai basis “fixative” untuk menstabilkan aroma serta bahan baku dupa dan lilin aromaterapi. Dalam industri farmasi dan medis, benzoin dipakai sebagai antiseptik dan perekat (misalnya pada perban bedah) serta bahan salep. Di sektor makanan, benzoin diizinkan sebagai aroma alami di negara maju – menghasilkan aroma vanila atau cokelat ringan pada permen, puding, minuman, dsb. Secara tradisional kemenyan dipakai sebagai dupa dan bahan ritual, serta pernah juga digunakan dalam rokok kretek Klembak Menyan. Khasiat farmakologis resin (anti-bakteri, antiinflamasi, dll.) juga membuatnya populer di pengobatan tradisional untuk mengobati luka, radang sendi, dan nyeri otot.
Nilai Ekonomi di Pasar Lokal dan Internasional
Citragro Indonesia merupakan salah satu pelaku usaha yang fokus pada penjualan dan distribusi kemenyan Sumatera berkualitas tinggi, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Perusahaan ini menyediakan berbagai grade kemenyan, yaitu:
- Grade A: Kualitas terbaik dengan butiran besar, warna cerah, dan aroma paling kuat. Cocok untuk industri parfum, farmasi, dan aromaterapi premium.
- Grade B: Kualitas menengah dengan ukuran butiran sedang dan warna kekuningan. Banyak digunakan untuk dupa, bahan baku kosmetik, dan olahan herbal.
- Grade C: Kualitas ekonomis dengan ukuran kecil hingga pecahan. Digunakan untuk pasar massal dan kebutuhan industri berskala besar.
Dengan permintaan kemenyan Sumatera yang terus meningkat di pasar dunia—terutama dari negara seperti India, Tiongkok, Mesir, dan Prancis—produk dari Citragro Indonesia menjadi pilihan strategis karena konsistensi kualitas dan kemurniannya.
Komitmen Citragro Indonesia adalah menyediakan resin benzoin (kemenyan) yang tidak hanya memenuhi standar industri global, tetapi juga mendukung petani lokal melalui praktik bisnis berkelanjutan.

